Secara hakikat, apa maksudnya itu? Kalau kita perhatikan, ketika matahari akan
terbit, kita melaksanakan shalat Subuh. Ketika matahari lagi puncaknya, Zhuhur.
Tergelincir, Ashar. Ketika mau terbenam, Maghrib. Setelah benar-benar
tenggelam, Isya. Gimana kira-kira maksudnya?
Subuh itu seperti sebuah kelahiran. Umpama masa kanak-kanakmu, Subuh itu suci,
karenanya DIA pun perintahkan untuk mensucikan namaNYA di setiap subuh itu.
Zhuhur itu nyata atau terang. Engkau telah meninggalkan masa kanak-kanakmu dan
engkau sudah beranjak dewasa dan akan segera menjelang masa tuamu. Karenanya
DIA pun memerintahkanmuuntuk menyatakan keberadaanNYA.
Ashar itu senja bagimu. Yaitu masa tua dan penantian bagimu. Ashar adalah waktu
bagimu untuk menimbang-nimbang diri, menimbang setiap jejak langkahmu di masa
muda. Engkau segera lenyap dan tergantikan. Karenanya demi masa Ashar engkau
pastilah merugi, kecuali dirimu beriman kepadaNya dan beramal saleh, saling nasehat
menasehati dalam perkara kebenaran dan sabar. Karenanya DIA perintahkan
kepadamu untuk sekali lagi mensucikan namaNYA, agar engkau bisa memahami diri,
menimbang diri, waspada dan selalu bijaksana menyikapi segala sesuatu, maut
bisa menjemputmu setiap saat. Maka bertasbihlah pada pagi dan petang.
Maghrib itu adalah ibarat ajal bagimu. Engkau sudah sangat dekat. Hanya ada dua
alternatif bagimu, yaitu rahmat ataukah laknat yang akan segera engkau jelang.
Maghrib itu amat singkat, sebagaimana ajal itu tak berlangsung lama. DIA pun
perintahkan padamu untuk mengagungkan namaNYA di setiap Maghrib agar engkau tak
kembali dalam keadaan tanpa membawa rahmatNYA.
Isya' itu ibarat kematian bagimu. Engkau segera diliputi kegelapan yang
mencekam, yang tiada lagi engkau temukan penolong selainNYA. Gelap gulita,
dalam penjara dan ketakutan yang teramat sangat. DIA pun memerintahkan kepadamu
untuk menyembahNYA agar engkau tak tercekam dalam ketakutan dan pulang dengan
membawa secercah cahaya. Dengan secercah cahaya itu engkau bisa pulang kembali
untuk menemukanNYA.
WALLAHU A'LAM BISSHOWAB
:: Kisah dan Tips untuk Memiliki Momongan ::
ADA pasangan suami-istri yang telah menikah 15 tahun lamanya belum dikaruniai
anak. Pasangan ini sangat menanti lahirnya sang buah hati namun tak kunjung
tiba. Beragam cara dan pengobatan telah ditempuh hasilnya tidak memuaskan. Si
istri mulai dihinggapi perasaan takut jika suaminya berpaling ke lain hati demi
memiliki ‘investasi’ berharga yang satu ini, sementara sang suami mulai
terasuki putus asa.
Di tempat berbeda, seorang istri bernama Etty berkaca-kaca matanya ketika
melihat test pack yang menunjukkan bahwa dirinya positif akan menjadi seorang
ibu dari jabang bayi yang tengah dikandung. Hampir saja ia tidak percaya.
Dilihatnya berulang-ulang dengan tatapan serius. Akhirnya senyum gembira
menghiasi bibirnya. Selang kemudian, suaminya yang diberi tahu oleh istri
bergegas melakukan sujud syukur. Tangis kedua pasangan ini pecah seketika,
membahana di seisi rumah.
Dulunya si istri pernah mengatakan, “Saya bosen liat test pack. Saya sampek
beranggapan mungkin Allah memang sudah menakdirkan saya tidak punya keturunan.
Saya hanya mencoba, barangkali ada sebuah keajaiban. Tidak ada yang tidak
mungkin jika Allah telah berkehendak.”
Awalnya keluarga di atas mengikuti pengobatan medis seperti yang disarankan
oleh dokter kandungan namun karena biaya mahal, keduanya beralih kepada
pengobatan ala Nabi. Seperti mengonsumsi buah-buahan yang sering disebutkan
dalam Al-Qur`an : pisang, pepaya, anggur, kurma, dan sebagainya. Tidak lupa,
keduanya mengonsumsi habbatus sauda` atau jinten hitam, minyak Zaitun, madu,
atau bekam dalam jangka waktu sekali sebulan.
***
Kita yakin dengan sebenar-benarnya, siapa pun yang akan dan telah menikah
pasti menginginkan kelahiran buah hati penyejuk jiwa, generasi penerus, dan
pelengkap keharmonisan keluarga. Tanpa anak, rasanya kehidupan rumah tangga
berjalan dengan garing, tak ada canda tawa yang lebih asyik. Di luar, ribuan
pasangan di seantero alam yang belum dikaruniai anak selalu menanti kapan
tibanya hari H yang satu ini.
Tidak jarang, cara yang tak lazim melanggar aturan main dalam agama pun kadang
ditempuh demi memuluskan harapan punya momongan. Keberadaan anak di tengah
rumah tangga merupakan impian setiap lelaki dan wanita yang menikah.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam. sendiri menganjurkan kita untuk
menikah dengan orang (pria/wanita) yang subur, bisa memberikan keturunan yang
sehat, prima, terampil, dan paling penting, anak yang shalih.
Anak adalah buahnya hati. “Segala sesuatu memiliki buah dan buahnya hati adalah
anak,” sabda nabi di sebuah kesempatan. Dalam hadits yang lain disebutkan,“Wangi
seorang anak merupakan bagian dari wewangian surga.”
Nabi Zakaria AS., seorang utusan Allah yang mulia, pernah merasakan pengalaman
yang saat ini dirasakan oleh ribuan pasangan yang belum memiliki anak. Nabi
Zakaria tidak berputus asa, kecewa, dan galau, tapi tetap percaya semua ada
hikmahya. Beliau tetap berikhtiar dan berdoa kepada Allah.
Penantian Nabi Zakaria terjawab sudah, seorang anak Allah berikan kepadanya.
Dalam Al Qur`an surat Maryam ayat 4-5, Allah menceritakan kepada kita: “Ia
berkata "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah
ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya
Tuhanku. Sesungguhnya aku khawatir terhadap orang-orang yang akan melanjurkan
urusanku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka
anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera.”
Anak merupakan penerus perjuangan dan harapan orangtua, sehingga Nabi
menegaskan, “Janganlan kalian lalai untuk memohon keturunan karena jika
seseorang telah meninggal dunia dan tidak memliki keturunan maka namanya akan
terhapus.” Dalam hadits yang lain nabi menyatakan, “Mohonlah keturunan dan
berharaplah, sesungguhnya keturunan adalah penyejuk mata dan kebahagiaan hati.”
► Tips Mempunyai Momongan
Kisah yang diunggah di atas tentunya bisa menjadi motivasi kepada siapa saja
yang belum memiliki anak kandung untuk terus berdoa. Selain berdoa, usaha dan
amal nyata jangan kita abaikan. Sebab, doa yang membumi berbanding lurus dengan
ikhtiyar, dan ini suatu keniscayaan. Hanya mimpi di siang bolong, misalnya,
kala kita berdoa supaya sukses dan lancar dalam studi namun sekadar doa
sementara aktivitas kita tidak mengarah kepada kesuksesan namun bermalas-malasan
dan pasrah menerima nasib.
Sama halnya dengan berdoa dan berharap kepada Allah agar diberi anak perlu
diiringi dengan ikhtiyar. Dan itu telah banyak dijelaskan oleh para ahli yang
memiliki kompetensi dalam masalah ini.
Dalam Majalah Al Falah Edisi Januari 2012 halaman 11 yang mengutip dari
berbagai sumber, disebutkan empat tips agar cepat hamil. Pertama, hindari
suasana yang menggiring anda menjadi stress. Caranya, manjakanlah diri Anda
dengan beragam kegiatan yang akan memberikan suasana sehat, baik dari segi
fisik maupun psikis.
Dengarkanlah musik kesukaan Anda, membaca buku, berjalan santai dengan pasangan
Anda. Bisa juga dengan mendatangi klinik pijat dan aromaterapi, datangilah spa
serta rawatlah tubuh Anda sebaik mungkin. Intinya lepaslah lelah dan penat dari
diri Anda. Buatlah diri Anda bahagia. Buang jauh-jauh perasaan tertekan.
Kedua, selalu berpikir positif. Apapun yang anda alami dan kerjakan, usahakan
sekuat tenaga untuk mengambil sisi-sisi positifnya. Hindarilah kerumunan orang
yang bisa membuat anda berpikir negatif, baik karena ucapan dan tingkah
lakunya.
Isilah waktu-waktu Anda untuk berbuat sesuatu yang berniai kebaikan dan
membangun jiwa anda agar tetap optimis.
Ketiga, ketika Anda telah berusaha menghindari suasana yang membuat stress dan
berpikir yang tidak-tidak, berikutnya ialah abaikan tekanan dari pihak keluarga
dan orang terdekat yang menyebabkan Anda kehilangan konsentrasi dalam
memperoleh keturunan.
Sebuah fakta penting yang perlu diperhatikan adalah banyak orang yang telah
bertahun-tahun berusaha mempunyai keturunan namun akhirnya menyerah dengan
keadaan. Tak lama setelah itu, tiba-tiba saja ia hamil. Apa sebabnya? “Hal ini
terjadi karena suasana hati mereka sedang sangat santai, tidak dalam tekanan
(karena sudah menyerah) karena sudah sangat pasrah tidak akan bisa hamil.
Itulah sebabnya, pikiran kita harus dalam ketenangan dan bebas stress agar
cepat hamil,” demikian ditulis dalam majalah ini.
Menurut hemat penulis, inilah yang dinamakan sikap pasrah yang dalam bahasa
Islam disebut dengan tawakkal, menggantungkan segala keputusan akhir, manis
getirnya, hanya di tangan Allah. Menyerahkan keputusan kepada Allah tidak sama
dengan menyerah dengan keadaan karena telah diawali dengan usaha
sungguh-sungguh. Allah Mahatahu apa yang terbaik buat kita.
Keempat, mengonsumsi makanan bergizi kaya nutrisi dan vitamin seperti makanan
yang kaya dengan kandungan asam folat, protein, zat besi, dan mineral.
Kehamilan dan gizi dua perkara yang tidak bisa dipisahkan bak dua sisi mata
uang yang saling bergantung dan mendukung.
“Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah telah berkehendak,” begitu kata Etty,
seorang yang tak lelah berusaha untuk memiliki anak. Panjatkan doa dan lakukan
usaha demi menambah kebahagiaan dengan lahirnya anak yang akan dididik dengan
ajaran Islam yang benar agar ia kelak mendoakan orangtuanya baik saat hidup
atau sepeninggalnya.
Bagi para pasangan yang belum beroleh anak bolehlah Anda sedih namun jangan
kecewa. Anda pun sah-sah saja cemas tapi jangan sampai membuat Anda berputus
asa dari rahmat-Nya. Anda, sekali lagi, dapat dimaklumi jika gundah gulana
namun jangan kehilangan kebahagiaan dalam berumah tangga.
Kelak saat Anda telah menjadi ayah dan ibu dari seorang anak, maka sayangilah,
didiklah, berikan motivasi kepadanya, beri semangat dan visi kehidupan islami,
buatlah ia memiliki kepercayaan diri, sehingga ketika Anda meninggalkan dunia
yang fana` ini, Anda mampu meniru pertanyaan Nabi Ya`qub dan mendapat jawaban
dari anak anda seperti jawaban anak-anak beliau;
أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ
مِن بَعْدِي قَالُواْ نَعْبُدُ إِلَـهَكَ وَإِلَـهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَوَإِسْمَاعِيلَ
وَإِسْحَاقَ إِلَـهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
“Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah
Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang
Maha Esa dan kami Hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (Qs. Al Baqarah [2] : 133).*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar