MAKALAH
Teori Belajar dan Pembelajaran
(Teori Belajar Humanistik)
Disusun Oleh:
Hesron Y.
Rey Fadly Umar
Kutubul Al
Amin
Muhammad Saldi
Ahmad Ardhan
Rauf
Muhammad
Nurkhalis Agriawan
Program Studi
Pendidikan Fisika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas
Sulawesi Barat
2018
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan begitu banyak
nikmat yang mana makhluk-Nya pun tidak akan menyadari begitu banyak nikmat
yang telah dapatkan dari Allah SWT. Selain itu, kami juga merasa sangat
bersyukur karena telah mendapatkan hidayah-Nya baik kesehatan maupun pikiran.
Atas nikmat dan hidayah-Nya pula kami dapat
menyelesaikan penulisan tugas mata
kuliah Teori Belajar dan Pembelajaran dengan topik inti “Teori
Belajar Humanistik” ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen
pengampu mata kuliah Teori Belajar dan Pembelajaran serta semua pihak yang
turut membantu proses penyusunan makalah ini.
Kami
menyadari makalah ini masih bersifat sederhana dan terbatas baik isi maupun
kajiannya.Oleh karena itu,diperlukan saran dan kritik guna memperbaiki
penyusunan makalah selanjutnya.
Demikian, semoga
makalah ini dapat menambah wawasan dan memberi manfaat bagi pembaca dalam
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkaitan dengan Alam Semesta.
Majene, 18 November 2018
DAFTAR
ISI
Kata Pengantar......................................................................................................
i
Daftar Isi............................................................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang ......................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah .................................................................................... 2
C.
Tujuan.......................................................................................................
2
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian Teori Humanistik ................................................................... 3
B.
Tokoh-Tokoh dalam Teori Humanistik .................................................... 4
C.
Proses Belajar Menurut Teori Humanistik ............................................... 7
D.
Kelebihan dan Kekurangan Teori
Humanistik ......................................... 8
E.
Aplikasi Teori Humanistik dalam
Pembelajaran ...................................... 9
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan.............................................................................................
10
B.
Saran ...................................................................................................... 11
Daftar Pustaka....................................................................................................
12
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Aliran
humanisme muncul pada tahun 90-an
sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap pendekatan psikoanalisa dan
behabvioristik. Sebagai sebuah aliran dalam psikologi, aliran ini boleh
dikatakan relative masih muda, bahkan beberapa ahlinya masih hidup dan
terus-menerus mengeluarkan konsep yag relevan dengan bidang pengkajian
psikologi, yang sangat menekankan pentingnya kesadaran, aktualisasi diri, dan
ha-hal yang bersifat positif tentang manusia.
Pengertian
humanisik yang beragam membuat batasan-batasan aplikasinya dalam dunia
pendidikan yang beragam pula. Teori humanisme menyatakan bahwa bagian
terpenting dalam proses pembelajaran adalah unsure manusianya. Humanisme lebih
melihat sisi perkembangan kepribadian manusia dibandingkan berfokus pada
“ketidaknormala”atau “sakit”.manusia akan mempunyai kemampuan positif untuk
menyembuhkan diri dari “sakit” tersebut, sehingga sisi positif inilah yang
ingin dikembangka oleh teori humanisme.
Teori
belajar humanisme bertujuan bahwa belajar adalah untuk memanusiakan manusia.
Proses belajar dianggap berhasil jika telah memhami lingkungan dan dirinya
sendiri. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut
pandang pelakunya bukan dati sudut pandang pengamatnya. Teori belajar ini
sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang ilmu filsafat, teori
kepribadian dan psikoterapi dibanding tentang psikologi belajar. Teori
humanisme lebih mementingkan isi yang dipelajari dari pada proses belajar itu
sendiri. Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep
pendidikan unttuk membentuk manusia yang dicita-citakan serta tentang proses
belajar dalam bentuk yang paling ideal.
Selain teori
behavioristik dan teori kognitif, teori belajar humanisme juga perlu untuk
dipahami. Menurut teori humanisme, proses belajar harus dimulai dan ditunjukan
untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, teori
humanisme sifatnya lebih abstrak dan mendekati bidang kajian filsafat, teori
kepribadian, dan psikoterapi dari pada bidang kajian psikologi belajar. Teori
humanisme sangat mementingkan isi yang dipelajari daripada proses belajar itu
sendiri. Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep
pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses
belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih
tertarik pada pemahaman tentang prosesbelajar sebagaimana apa adanya, seperti
yang selama ini dikaji oleh teori-teori belajar lainnya.
B. Rumusan
Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan Teori
Humanistik?
2.
Siapa sajakah tokoh-tokoh dalam Teori Humanistik?
3.
Bagaimana proses belajar menurut Teori
Humanistik?
4.
Apa kelebihan dan kekurangan Teori
Humanistik?
C. Tujuan
1.
Untuk mengatahui apa yang dimakasud
dengan Teori Humanistik.
2.
Untuk mengetahui siapa sajakah
tokoh-tokoh dalam Teori Humanistik.
3.
Untuk mengatahui bagaimana proses
belajar menurut Teori Humanistik.
4.
Untuk mengetahui apa saja kelebihan dan
kekurangan Teori Humanistik.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Teori Humanistik
Abraham Maslow
dan Carl Rogers termasuk kedalam tokoh kunci humanisme. Tujuan utama dari
humanisme dapat dijabarkan sebagai perkembangan dari aktualisasi diri manusia
automomous. Dalam humanisme, belajar adalah proses yang berpusat pada pelajar
dan dipersonalisasikan, dan peran pendidik adalah sebagai seorang fasilitator.
Afeksi dan
kebutuhan kognitif adalah kuncinya, dan goalnya adalah untuk membangun manusia
yang dapat mengaktualisasikan diri dalam lingkungan yang kooperatif dan
suportif. Dijelaskan juga bahwa pada hakekatnya setiap manusia adalah unik,
memiliki potensi individual dan dorongan internal untuk berkembang dan
menentukan perilakunya. Karena itu dalam kaitannya maka setiap diri manusia
adalah bebas dan memiliki kecenderungan untuk tumbuh dan berkembang mencapai
aktualisasi diri. Psikologi humanistik menekankan kebebasan personal, pilihan,
kepekaan dan tanggung jawab personal. Sebagaimana yang dinyatakan secara tidak
langsung oleh tema itu, psikologi humanisme juga memfokuskan pada prestasi, motivasi,
perasaan, tindakan dan kebutuhan akan umat manusia. Akhir dari perkembangan
pribadi manusia adalah mengaktualisasikan dirinya, mampu mengembangkan
potensinya secara utuh, bermakna dan berfungsi bagi kehidupan dirinya dan
lingkungannya.Sa’dullah,Uyoh ,( 2003:173-174).
Teori humanisme
merupakan konsep belajar yang lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian
manusia. Berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan
yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut.Teori belajar humanistik
sifatnya sangat mementingkan isi yang dipelajari dari pada proses belajar itu.
Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan untuk
membentuk manusia yang dicita-citakan dan bertujuan untuk memanusiakan manusia
itu sendiri serta tentang proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal.Asri
Budiningsih,(2005:68).
Tujuan belajar
menurut teori ini adalah memanusiakan manusia artinya perilaku tiap orang
ditentukan oleh orang itu sendiri dan memahami manusia terhadap lingkungan dan
dirinya sendiri. Menurut para pendidik aliran ini penyusunan dan penyajian
materi pelajaran harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa. Tujuan utama
pendidik adalah membantu siswa mengembangkan dirinya yaitu membantu individu
untuk mengenal dirinya sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu
mewujudkan potensi mereka. Para ahli humanistic melihat adanya dua bagian pada
proses belajar yaitu proses pemerolehan informasi baru dan personalisasi
informasi ini pada individu.
Sesuai beberapa
pendapat-pendapat di atas teori Humanistik adalah suatu teori yang mana manusia
itu dapat mengaktualisasikan dirinya sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang baik
serta mampu mengembangkan potensinya secara utuh, bermakna dan berfungsi bagi
kehidupan dirinya dan lingkungannya.
B.
Tokoh-Tokoh
Teori Humanistik
1. Arthur Combs (1912-1999)
Combs
dan kawan-kawan menyatakan bahwa apabila kita ingin memahami perlaku orang kita
harus mencoba memahami dunia persepsi orang itu. Apabila kita ingin mengubah
keyakinan atau pandangan orang itu, perilaku dalamlah yang membedakan seseorang
dengan yang lain. Combs dan kawan-kawan selanjutnya mengatakan bahwa perilaku
buruk itu sesungguhnya tak lain halnya dari ketidakmampuan seseorang untuk
melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya. Apabila seorang
guru mengeluh bahwa siswanya tidak mempunyai motivasi unuk melakukan sesuatu,
ini sesungguhnya berarti bahwa siswa itu tidak mempunyai motivasi untuk
melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh guru itu. Apabila guru itu memberikan
aktivitas yang lain , mungkin sekali siswa akan memberikan reaksi yang positif.
Palyono, M. (1997. :44-45) . Terdapat dua bagian pada learning, yaitu pertama
memperoleh informasi baru, kedua personalisasi informasi pada individu.
Combs
berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa
mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana
mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa
si siswa untuk memperoleh arti dari materi pelajaran tersebut dan
menghubungkannya dengan kehidupannya.
Combs
memberikan lukisan persepsi diri dan persepsi dunia seseorang seperti dua
lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu . Lingkaran kecil (1)
adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkaran besar (2) adalah persepsi
dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang
pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan
dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.
2.
Abraham Maslow
Teori
Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal:
a) Suatu
usaha yang positif untuk berkembang.
b) Kekuatan
untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai
perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk
mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan
sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih
maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke
arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat
menerima diri sendiri (self).
Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama,
seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang
terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan rasa aman dan seterusnya.
Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi
kebutuhan yang bersifat hirarkis. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini
mempunyai implikasi yang penting yang harus diperhatikan oleh guru pada waktu
ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini
mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.
3.
Carl Ransom Rogers
Rogers
membedakan dua tipe belajar, yaitu:
a) Kognitif
(kebermaknaan).
b) Experiential
(pengalaman atau signifikansi).
Guru menghubungkan pengetahuan akademik ke dalam
pengetahuan terpakai seperti memperlajari mesin dengan tujuan untuk
memperbaikai mobil. Experiential Learning menunjuk pada pemenuhan kebutuhan dan
keinginan siswa. Kualitas belajar experiential learning mencakup : keterlibatan
siswa secara personal, berinisiatif, evaluasi oleh siswa sendiri, dan adanya
efek yang membekas pada siswa.
Dari bukunya Freedom To Learn, ia menunjukkan
sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistik yang penting diantaranya ialah:
a) Manusia
itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
b) Belajar
yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai
relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
c) Belajar
yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri diangap
mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
d) Tugas-tugas
belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan
apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.
e) Apabila
ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai
cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
f) Belajar
yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
g) Belajar
diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut
bertanggungjawab terhadap proses belajar itu.
h) Belajar
inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun
intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
i)
Kepercayaan terhadap diri sendiri,
kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan
untuk mawas diri dan mengritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain
merupakan cara kedua yang penting.
j)
Belajar yang paling berguna secara
sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu
keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri
sendiri mengenai proses perubahan itu. Wasty Soemanto, (1987:129)
C. Proses
Belajar Menurut Teori Humanistik
Peranan
Siswa (Si-belajar) mengaktualisasikan dirinya, mampu
mengembangkan potensinya secara utuh, bermakna dan berfungsi bagi kehidupan
dirinya dan lingkungannya.
Peranan
Guru. Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru
sebagai fasilitator. Berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan
belajar dan berbagai kualitas fasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat
singkat dari beberapa (petunjuk):
1.
Fasilitator sebaiknya memberi perhatian
kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas
2.
Fasilitator membantu untuk memperoleh
dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan
kelompok yang bersifat umum.
3.
Dia mempercayai adanya keinginan dari
masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi
dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang
bermakna tadi.
4.
Dia mencoba mengatur dan menyediakan
sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa
untuk membantu mencapai tujuan mereka.
5.
Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai
suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
6.
Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di
dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan
sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik
bagi individual ataupun bagi kelompok
7.
Bilamana cuaca penerima kelas telah
mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa
yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan
pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
8.
Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta
dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga
tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja
digunakan atau ditolak oleh siswa
9.
Dia harus tetap waspada terhadap
ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama
belajar.
10.
Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator,
pimpinan harus mencoba untuk mengenali dan menerima
keterbatasan-keterbatasannya sendiri.
D. Kelebihan
dan Kekurangan Teori Humanistik
1.
Kelebihan Teori Humanistik
a) Teori
ini cocok untuk diterapkan dalam materi pembelajaran yang bersifat pembentukan
kepribadian, hati nurani, perubahan sikap dan analisis terhadap fenomena
sosial.
b) Indikator
dari keberhasilan alokasi ini adalah siswa merasa senang. Bergairah, berinisiatif
dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan
sendiri.
c) Siswa
diharapkan menjadi manusia yang bebas, tidak terikat oleh pendapat orang lain
dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi
hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang
berlaku.
2.
Kekurangan Teori Humanistik
a) Siswa
yang tidak mau memahami potensi dirinya akan ketinggalan dalam proses belajar.
b) Siswa
yang tidak aktif dan malas belajar akan merugikan diri sendiri dalam proses
belajar.
E. Aplikasi
Teori Humanistik dalam Pembelajaran
Teori humanistik
akan sangat membantu para pendidik dalam memahami arah belajar pada dimensi
yang lebih luas sehingga upaya pembelajaran apapun dan pada konteks manapun
akan selalu diarahkan untuk mencapai pembelajaran yang praktis dan operasional,
namun sumbangan teori ini sangat besar, dapat membantu para guru dan pendidik
memahami hakikat kejiwaan manusia. Dapat menentukan komponen-komponen
pembelajaran seperti perumusan tujuan, pemilihan strategi pembelajaran serta
pengembangan alat evaluasi kearah pembentukan manusia yang dicitakan.
Dalam prakteknya
teori humanistik ini cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir induktif,
mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif
dalam proses belajar. Oleh sebab itu, walaupun secara eksplisit belum ada
pedoman baku tentang langkah-lagkah pembelajaran dengan pendekatan humanistik,
namun paling tidak langkah-langkah pembelajaran yang dikemukakan oleh Suciati
dan Prasetya Irawan (2001) dapat digunakan sebagai acuan. Langkah-langkah yang
dimaksud adalah sebagai berikut:
1.
Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran.
2.
Menetukan materi pelajaran.
3.
Mengidentifikasi kemampuan awal siswa.
4.
Mengidentifikasi topik-topik pelajaran
yang memungkinkan siswa secara aktif melibatkan diri atau mengalami dalam
belajar.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Teori humanisme
merupakan konsep belajar yang lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian
manusia. Berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan
yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut.Teori belajar humanistik
sifatnya sangat mementingkan isi yang dipelajari dari pada proses belajar itu.
Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan untuk
membentuk manusia yang dicita-citakan dan bertujuan untuk memanusiakan manusia
itu sendiri serta tentang proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal.Asri
Budiningsih,(2005:68).
Peranan
Siswa (Si-belajar) mengaktualisasikan dirinya, mampu
mengembangkan potensinya secara utuh, bermakna dan berfungsi bagi kehidupan
dirinya dan lingkungannya. Peranan Guru. Psikologi humanistik memberi
perhatian atas guru sebagai fasilitator. Berikut ini adalah berbagai cara untuk
memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas fasilitator.
adapun kelebihan Teori Humanistik adalah :Teori
ini cocok untuk diterapkan dalam materi pembelajaran yang bersifat pembentukan
kepribadian, hati nurani, perubahan sikap dan analisis terhadap fenomena
sosial, Indikator dari keberhasilan alokasi ini adalah siswa merasa senang.
Bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir,
perilaku dan sikap atas kemauan sendiri, dan Siswa diharapkan menjadi manusia
yang bebas, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya
sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau
melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang berlaku.
Adapun kekurangan
Teori Humanistik adalah: Siswa yang tidak mau memahami potensi dirinya akan ketinggalan
dalam proses belajar, dan Siswa yang tidak aktif dan malas belajar akan
merugikan diri sendiri dalam proses belajar.
Dalam prakteknya
teori humanistik ini cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir induktif,
mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif
dalam proses belajar. Oleh sebab itu, walaupun secara eksplisit belum ada
pedoman baku tentang langkah-lagkah pembelajaran dengan pendekatan humanistik,
namun paling tidak langkah-langkah pembelajaran yang dikemukakan oleh Suciati
dan Prasetya Irawan (2001) dapat digunakan sebagai acuan. Langkah-langkah yang
dimaksud adalah sebagai berikut: Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran,
Menetukan materi pelajaran, Mengidentifikasi kemampuan awal siswa, dan Mengidentifikasi
topik-topik pelajaran yang memungkinkan siswa secara aktif melibatkan diri atau
mengalami dalam belajar.
B. Saran
Meskipun kami menginginkan kesempurnaan makalah ini, akan
tetapi pada pada kenyataannya masih banyak kekurangan yang perlu kami perbaiki.
Hal ini disebabkan masih minimnya pengetahuan kami.Oleh karena itu, kritik dan
saran yang membangun dari para pembaca sangat kami harapkan sebagai bahan
evaluasi kedepannya.
Daftar
Pustaka
Badruzzaman.
2018. Teori belajar humanistik dan
penerapannya. https://www.dasarguru.com/teori-belajar-humanistik-dan-penerapannya.html
diakses 21 November 2018
Fauzia. 2013. Teori
belajar humanisme. http://rumbifauziah.blogspot.com/2013/05/teori-belajar-humanisme.html
diakses 20 November 2018
Kurniawan.
2013. Makalah teori belajar humanisme.
http://isqalkurniawan.blogspot.com/2013/03/makalah-teori-belajar
humanisme.html diakses 21 November 2018
Arief.
2013. Teori belajar humanistik dan implikasinya dalam pembelajaran. http://abiavisha.blogspot.com/2013/12/teori-belajar-humanistik-dan.html
diakses 20 November 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar