2.1 PENGERTIAN RAGAM BAHASA
Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ragam bahasa diartikan variasi bahasa
menurut pemakainya, topic yang dibicarakan hubungan pembicara dan teman bicara,
dan medium pembicaraanya. (2005:920).
Pengertian
ragam bahasa ini dalam berkomunikasi perlu memperhatikan beberapa aspek, yaitu:
1. Situasi
yang dihadapi.
2. Permasalahan
yang hendak disampaikan.
3. Latar
belakang pendengar atau pembaca yang dituju.
4. Medium
atau sarana bahasa yang digunakan.
Dari
keempat aspek diatas lebih mengutamakan aspek situasi yang dihadapi dan aspek
medium bahasa yang digunakan dibandingkan kedua aspek yang lain.
Sebelum mengenal pengertian ragam bahasa
secara umum. Adapun pegertian ragam bahasa menurut para ahli adalah sebagai berikut:
1. Pengertian
ragam bahasa menurut Bachman
Menurut
Bachman (1990), “ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian,
yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara,
kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara”.
2. Pengertian
ragam bahasa menurut Dendy Sugono
Menurut Dendy Sugono (1999), “bahwa
sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu
masalah penggunaan bahasa baku dan tidak baku. Dalam situasi resmi, seperti di
sekolah di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku.
Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita
tidak dituntut menggunakan bahasa baku”.
3. Pengertian
ragam bahasa menurut Fishman ed
Menurut Fishman ed (1968), “suatu ragam
bahasa, terutama ragam bahasa jurnalistik dan hokum, tidak tertutup kemungkinan
untuk menggunakan bentuk kosakata ragam bahasa baku agar dapat menjadi panutan
bagi masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Dalam pada itu yang perlu
diperhatikan ialah kaidah tentang norma yang berlaku, yang berkaitan dengan
latar belakang pembicaraan (situasi pembicaraan), pelaku bicara, dan topic
pembicaraan”.
Dan pengertian ragam bahasa secara umum
adalah varian dari sebuah bahasa menurut pemakaian. Berbeda dengan dialek
yaitu varian dari sebuah bahasa menurut pemakai. Varian tersebut bisa berbentum
dialek, aksen, laras, gaya, atau berbagai variasi sosiolinguistik lain,
termasuk variasi bahasa baku itu sendiri. Ragam bahasa ditinjau dari media atau sarana yang digunakan
untuk menghasilkan bahasa, yang terdiri dari ragam bahasa lisan dan ragam
bahasa tulisan.
Bahasa
yang di hasilkan menggunakan alat ucap (organ of speech) dengan fonem
sebagai unsur dasar dinamakan ragam bahasa lisan sedangkan bahasa yang
dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai dasarnya, dinamakan
ragam bahasa tulisan. Jadi dalam ragam bahasa lisan kita berurusan dengan
lafal, dalam ragam bahasa tulisan kita berurusan dengan tata cara penulisan
(ejaan). Selain itu aspek tata bahasa dan kosa kata dalam kedua ragam tersebut
memiliki hubungan yang erat. Ragam bahasa tulis yang unsur dasarnya ragam
bahasa lisan. Oleh karena itu sering timbul kesan antara ragam bahasa lisan dan
tulisan itu sama. Padahal, kedua jenis ragam bahasa itu berkembang menjadi
sistem bahasa yang memiliki sistem seperangkat kaidah yang berbeda satu dengan
yang lainnya.
2.2 MACAM-MACAM
RAGAM BAHASA
Macam-macam ragam Bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi 4 jenis yaitu berdasarkan media atau
sarana, berdasarkan cara pandang penutur, berdasarkan ragam sosial dan ragam
fungsional dan ragam bahasa berdasarkan topik pembicara.
2.2.1
Ragam Bahasa
Indonesia berdasarkan media atau sarana terdiri dari ragam lisan
dan ragam tulis.
1.
Ragam Lisan
Ragam bahasa lisan adalah bahan yang dihasilkan alat
ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar. Dalam ragam lisan,
kita berurusan dengan tata bahasa, kosakata, dan lafal. Dalam ragam bahasa
lisan ini, pembicara dapat memanfaatkan tinggi rendah suara atau tekanan, air
muka, gerak tangan atau isyarat untuk mengungkapkan ide. Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian
sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan kalimat. Namun, hal itu tidak
mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam pilihan kata
dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur di dalam kelengkapan
unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam
baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam
memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan.
Ciri-ciri ragam
lisan :
a.
Memerlukan orang
kedua/teman bicara.
b.
Tergantung situasi, kondisi, ruang & waktu.
c.
Tidak harus memperhatikan unsur gramatikal, hanya perlu
intonasi serta bahasa tubuh.
d.
Berlangsung cepat.
e.
Sering dapat berlangsung tanpa alat bantu.
f.
Kesalahan dapat langsung dikoreksi.
g.
Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik wajah serta
intonasi.
Kelebihan
Ragam Bahasa lisan:
Di dalam ragam lisan unsur-unsur fungsi gramatikal,
seperti subjek, predikat, dan objek tidak selalu dinyatakan. Unsur-unsur itu
kadang-kadang dapat ditinggalkan. Hal ini disebabkan oleh bahasa yang digunakan
itu dapat dibantu oleh gerak, mimik, pandangan, anggukan, atau intonasi.
Kelemahan Ragam bahasa lisan:
Ragam lisan sangat terikat pada kondisi, situasi,
ruang dan waktu. Apa yang dibicarakan secara lisan di dalam sebuah ruang
kuliah, hanya akan berarti dan berlaku untuk waktu itu saja. Apa yang
diperbincangkan dalam suatu ruang diskusi belum tentu dapat dimengerti
oleh orang yang berada di luar ruang.
Contoh ragam lisan
adalah ‘Sudah saya baca buku itu.’
2.
Ragam Tulis
Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan
tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan
dengan tata cara penulisan (ejaan) di samping aspek tata bahasa dan kosa kata.
Dengan kata lain dalam ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya kelengkapan
unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan
pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam
mengungkapkan ide.
Dalam penggunaan
ragam bahasa baku tulis makna kalimat yang diungkapkannya tidak ditunjang oleh
situasi pemakaian, sedangkan ragam bahasa baku lisan makna kalimat yang
diungkapkannya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar
terjadi pelesapan unsur kalimat. Oleh karena itu, dalam penggunaan ragam bahasa
baku tulis diperlukan kecermatan dan ketepatan di dalam pemilihan kata,
penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk kata dan struktur kalimat, serta
kelengkapan unsur-unsur bahasa di dalam struktur kalimat.
Ciri-ciri ragam tulis :
a.
Tidak
memerlukan orang kedua/teman bicara;
b.
Tidak tergantung kondisi, situasi & ruang serta
waktu;
c.
Harus
memperhatikan unsur gramatikal;
d.
Berlangsung lambat;
e.
Selalu memakai alat bantu;
f.
Kesalahan tidak dapat langsung dikoreksi;
g.
Tidak dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik muka,
hanya terbantu dengan tanda baca.
Kelemahan Ragam bahasa tulisan:
Ragam tulis perlu lebih terang dan
lebih lengkap daripada ragam lisan. Fungsi-fungsi gramatikal harus nyata karena
ragam tulis tidak mengharuskan orang kedua berada di depan pembicara.
Kelengkapan ragam tulis menghendaki agar orang yang “diajak bicara” mengerti
isi tulisan itu. Contoh ragam tulis ialah tulisan-tulisan dalam buku, majalah,
dan surat kabar.
Contoh
kalimat ‘Nia sedang membaca surat kabar’
2.2.2
Ragam Bahasa
Indonesia berdasarkan cara pandang penutur
1.
Ragam bahasa berdasarkan daerah disebut ragam daerah
(logat/dialek).
Luasnya pemakaian bahasa dapat menimbulkan perbedaan
pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang tinggal di
Jakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali,
Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing memilikiciri khas yang berbeda-beda.
Misalnya logat bahasa Indonesia orang Jawa Tengah tampak padapelafalan/b/pada
posisiawal saat melafalkan nama-nama kota seperti Bogor, Bandung, Banyuwangi,
dll. Logat bahasa Indonesia orang Bali tampak pada pelafalan /t/ seperti pada
kata ithu, kitha, canthik, dll
Contoh
ragam dialek adalah ‘Gue udah baca itu buku.’
2.
Ragam bahasa berdasarkan pendidikan penutur.
Bahasa Indonesia yang digunakan oleh
kelompok penutur yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan,
terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya fitnah,
kompleks,vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan
mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas.
Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya
membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun
sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.
Contoh ragam
terpelajar adalah ‘Saya sudah membaca buku itu.’
3. Ragam
bahasa berdasarkan sikap penutur.
Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur
terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa (jika
dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan kawan
bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap
tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas
ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan
bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa
baku. Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin
tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat
keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.
2.2.3
Berdasarkan Ragam Sosial dan Ragam Fungsional
1. Ragam
sosial
yaitu ragam bahasa yang sebagian norma dan kaidahnya di dasarkan atas
kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil dalam masyarakat.
Ragam bahasa yang digunakan dalam keluarga atau persahabatan dua orang yang
akrab dapat merupakan ragam sosial tersendiri.
2. Ragam
fungsional,yang kadang-kadang disebut juga ragam professional.
adalah ragam bahasa yang dikaitkan dengan profesi,
lembaga, lingkungan kerja, atau kegiatan tertentu lainnya. Ragam fungsional
juga dikaitkan dengan keresmian keadaan penggunaannya.
2.2.4
Ragam Bahasa
Indonesia berdasarkan topik pembicaraan
Dalam kehidupan sehari-hari banyak
pokok persoalan yang dibicarakan. Dalam membicarakan pokok persoalan yang
berbeda-beda ini kita pun menggunakan ragam bahasa yang berbeda. Ragam bahasa
yang digunakan dalam lingkungan agama berbeda dengan bahasa yang digunakan
dalam lingkungan kedokteran, hukum, atau pers. Bahasa yang digunakan dalam
lingkungan politik, berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan
ekonomi/perdagangan, olah raga, seni, atau teknologi. Ragam bahasa yang
digunakan menurut pokok persoalan atau bidang pemakaian ini dikenal pula dengan
istilah laras bahasa.
Perbedaan itu tampak dalam pilihan
atau penggunaan sejumlah kata/peristilahan/ungkapan yang khusus digunakan dalam
bidang tersebut, misalnya masjid, gereja, vihara adalah kata-kata yang
digunakan dalam bidang agama; koroner, hipertensi, anemia, digunakan dalam
bidang kedokteran; improvisasi, maestro, kontemporer banyak digunakan dalam
lingkungan seni; pengacara, duplik, terdakwa, digunakan dalam lingkungan hukum;
pemanasan, peregangan, wasit digunakan dalam lingkungan olah raga. Kalimat yang
digunakan pun berbeda sesuai dengan pokok persoalan yang dikemukakan. Kalimat
dalam undang-undang berbeda dengan kalimat-kalimat dalam sastra,
kalimat-kalimat dalam karya ilmiah, kalimat-kalimat dalam koran/majalah, dll.
Contoh kalimat yang digunakan dalam undang-undang.lingkungan kerja, atau
kegiatan tertentu lainnya. Terdiri dari ragam
bahasa ilmiah, ragam hukum, ragam bisnis, ragam agama, ragam sosial, ragam
kedokteran dan ragam sastra.
Ciri-ciri ragam ilmiah :
a.
Bahasa Indonesia
ragam baku
b.
Penggunaan kalimat
efektif
c.
Menghindari bentuk bahasa yang bermakna ganda
d.
Penggunaan kata dan istilah yang bermakna lugas dan
menghindari pemakaian kata dan istilah yang bermakna kias
e.
Menghindari
penonjolan persona dengan tujuan menjaga objektivitas isi tulisan
f.
Adanya keselarasan dan keruntutan antarproposisi dan
antaralinea.
Contoh ragam bahasa berdasarkan topik pembicaraan :
a.
Dia dihukum karena melakukan tindak pidana. (ragam hukum)
b.
Setiap pembelian di atas nilai tertentu akan diberikan
diskon.(ragam bisnis)
c.
Cerita itu
menggunakan unsur flashback. (ragam sastra)
d.
Anak itu menderita
penyakit kuorsior. (ragam kedokteran)
e.
Penderita autis
perlu mendapatkan bimbingan yang intensif. (ragam psikologi)
Ragam bahasa baku dapat berupa : (1) ragam bahasa baku tulis
dan (2) ragam bahasa baku lisan
2.3 MACAM-MACAM
RAGAM BAHASA BERDASARKAN TINGKAT KEFORMALAN
Martin
Joss membedakan ragam bahasa dalam lima bentuk, yaitu ragam beku (frozen),
ragam resmi (formal), ragam usaha ( konsultatif), ragam santai (casual), dan
ragam akrab (intim) (Abdul Chaer, 2004:70). Berikut penjelasan tiap-tiap ragam
tersebut.
2.3.1
Ragam Beku (frozen)
Ragam
bahasa ini merupakan variasi bahasa yang paling formal dan digunakan dalam
situasi-situasi khidmat dan upacara-upacara resmi seperti kenegaraan, tata cara
pengambilan sumpah, undang-undang, akta notaris, dan surat keputusan. Variasi
ini disebut ragam beku karena pola dan kaidahnya sudah ditetapkan secara mantap
dan tidak boleh diubah. Dalam bentuk tertulis raga mini dapat kita temui pada
dokumen-dokumen sejarah, undang-undang, akta notaris, naskah perjanjian jual
beli dan surat sewa menyewa.
Kalimat-kalimat
yang dimulai dengan bahwa, maka, hatta, dan sesungguhnya merupakan contoh dari
bahasa ragam beku. Susunan kalimat dalam ragam beku biasanya panjang-panjang,
bersifat kaku, dan kata-katanya lengkap. Denga demikian, para penutur dan
pendengar ragam beku dituntut keseriusan dan perhatian penuh.
2.3.2
Ragam Resmi (formal)
Ragam
bahasa ini merupakan bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, surat
menyurat dinas, ceramah kenegaraan, atau buku-buku pelajaran. Pola dan kaidah
ragam resmi sudah ditetapkan secara mantap sebagai suatu standar. Ragam resmi
ini pada dasarnya sama dengan ragam beku yang hanya digunakan dalam situasi
resmi. Jadi, percakapan antar teman yang sudah karib atau percakapan dalam
keluraga tidak dituntut menggaunakan ragam resmi. Akan tetapi, pembicaraab
dalam acara peminangan atau diskusi dalam ruang kuliah menggunakan ragam resmi.Karakteristik
dalam ragam ini yaitu lebih lengkap dan kompleks, menggunakan pola tata bahasa
yang tepat dan juga kosa kata standar atau baku.
2.3.3
Ragam Usaha (konsultatif)
Variasi
ini lazim digunakan dalam pembicaraan biasa disekolah, rapat-rapat, atau
pembicaraan yang berorientasi pada hasil atau produksi. Jadi, dapat dikatakan
bahwa ragam ini merupakan ragam yang paling operasional. Ragam ini tingkatannya
berada antara formal dan ragam santai.
2.3.4
Ragam Santai (kasual)
Ragam ini
merupakan variasi yang biasa digunakan dalam situasi yang tidak resmi seperti
berbincang-bincang dengan keluarga ketika berlibur, berolahraga, berekreasi,
dan sebagainya. Pada ragam ini banyak digunakan bentuk alegro atau ujaran
dipendekkan. Unsur kata-kata pembentukannya baik secara morfologis maupun
sintaksis banyak diwarnai bahasa daerah.
2.3.5
Ragam Akrab (intim)
Variasi
bahasa ini digunakan oleh penutur dan petutur yang memiliki hubungan sangat
akrab dan dekat seperti dengan anggota keluarga atau sahabat karib. Ragam ini
ditandai dengan penggunaan bahasa yang lengkap, pendek-pendek, dan artikulasi
tidak jelas. Pembicaraan ini terjadi antar partisipan yang sudah saling
mengerti dan memiliki pengetahuan yang sama.
Adapun contoh dari kalimat ragam
bahasa berdasarkan tingkat keformalan adalah sebagai berikut yang dirangkum
kedalam sebuah percakapan:
Saldi dan Rey adalah dua sahabat
karib. Di pojok ruangan seusai kuliah keduanya tampak berbincang-bincang.
1. Saldi : jadi, cin? (maksudnya jadi pergi ke telkom tidak?)
2. Rey :
yoi,sudah pasti itu. (jadi, karena saya sudah janji kita akan ke Telkom)
3. Saldi : jamnya? (jam berapa?)
4. Rey :
delapen pagi besok, cin. (jam delapan pagi besok)
Tiba-tiba datang dosen ke dalam
ruangan
5. Saldi : selamat siang, pak. Ada yang ketinggalan?
6. Dosen : tolong teman-teman yang lain diberi tahu makalahnya harus
dikumpulkan paling lambat besok yah.
7. Saldi : baik pak. Nanti saya sampaikan kepada teman-teman yang
lain.
8. Dosen : oke, terimah kasih
9. Saldi : terimah kasih kembali, pak.
Setelah dosen pergi, Aco masuk ke
dalam kelas
10. Aco :
saya kayaknya gak jadi ikut ntar. (mungkin nanti saya tidak bisa ikut)
11. Rey :
aii... kenapa tidak bisa ko? (mengapa tidak bisa ikut)
12. Aco :
ada acara keluarga besok. Jadi saya dialarang keluar oleh ibu saya besok. Harus
stay terus di rumah.
13. Rey :
oo.. santai saja. Tidak apa ji.
14. Aco :
okey.
Berdasarkan
contoh petikan percakapan diatas, dapat kita lihat terjadi perubahan ragam
bahasa yang digunakan meskipun percakapan tersebut terjadi dalam satu lokasi
dan satu waktu. Percakapan nomor 1-4 merupakan contoh ragam bahasa akrab
(intim) antara dua sahabat karib. Keakraban ini dapat kita ketahui dari bahasa
yang digunakan seperti sapaan Cin dan penggunaan bahasa pendek-pendekyang
diketahui oleh kedua penutur. Percakapan nomor 5-9 merupakan contohpercakapan
ragam usaha (konsultatif) yang dilakukan oleh mahasiswa dan dosen. Keduanya
menggunakan bahasa yang lebih formal daripada ragam santai (kasual) dan ragam
akrab (intim). Percakapan nomor 10-14 merupakan contoh ragam bahasa santai,
yaitu percakapan antara teman sekelas tetapi hubungan keduanya tidak sedekat
seperti pada ragam intim. Sedangkan contoh kalimat ragam resmi (formal) dapat
ditemukan pada surat kabar dan contoh kalimat ragam beku terdapat pada
Undang-Undang Dasar 1945 dan juga dapat ditemukan dalam lagu kebangsaan
Indonesia Raya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar