Firefly Pointer Andromeda: RAGAM BAHASA
Manusia Hebat adalah manusia yang menghargai orang lain

Rabu, 09 Oktober 2019

RAGAM BAHASA





2.1  PENGERTIAN RAGAM BAHASA

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ragam bahasa diartikan variasi bahasa menurut pemakainya, topic yang dibicarakan hubungan pembicara dan teman bicara, dan medium pembicaraanya. (2005:920).

Pengertian ragam bahasa ini dalam berkomunikasi perlu memperhatikan beberapa aspek, yaitu:
1.      Situasi yang dihadapi.
2.      Permasalahan yang hendak disampaikan.
3.      Latar belakang pendengar atau pembaca yang dituju.
4.      Medium atau sarana bahasa yang digunakan.
Dari keempat aspek diatas lebih mengutamakan aspek situasi yang dihadapi dan aspek medium bahasa yang digunakan dibandingkan kedua aspek yang lain.

      Sebelum mengenal pengertian ragam bahasa secara umum. Adapun pegertian ragam bahasa menurut para ahli adalah sebagai berikut:
1.      Pengertian ragam bahasa menurut Bachman
Menurut Bachman (1990), “ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara”.
2.      Pengertian ragam bahasa menurut Dendy Sugono
Menurut Dendy Sugono (1999), “bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tidak baku. Dalam situasi resmi, seperti di sekolah di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku”.
3.      Pengertian ragam bahasa menurut  Fishman ed
Menurut Fishman ed (1968), “suatu ragam bahasa, terutama ragam bahasa jurnalistik dan hokum, tidak tertutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk kosakata ragam bahasa baku agar dapat menjadi panutan bagi masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Dalam pada itu yang perlu diperhatikan ialah kaidah tentang norma yang berlaku, yang berkaitan dengan latar belakang pembicaraan (situasi pembicaraan), pelaku bicara, dan topic pembicaraan”.

Dan pengertian ragam bahasa secara umum adalah  varian dari sebuah bahasa menurut pemakaian. Berbeda dengan dialek yaitu varian dari sebuah bahasa menurut pemakai. Varian tersebut bisa berbentum dialek, aksen, laras, gaya, atau berbagai variasi sosiolinguistik lain, termasuk variasi bahasa baku itu sendiri. Ragam bahasa ditinjau dari media atau sarana yang digunakan untuk menghasilkan bahasa, yang terdiri dari ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulisan.

Bahasa yang di hasilkan menggunakan alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar dinamakan ragam bahasa lisan sedangkan bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai dasarnya, dinamakan ragam bahasa tulisan. Jadi dalam ragam bahasa lisan kita berurusan dengan lafal, dalam ragam bahasa tulisan kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan). Selain itu aspek tata bahasa dan kosa kata dalam kedua ragam tersebut memiliki hubungan yang erat. Ragam bahasa tulis yang unsur dasarnya  ragam bahasa lisan. Oleh karena itu sering timbul kesan antara ragam bahasa lisan dan tulisan itu sama. Padahal, kedua jenis ragam bahasa itu berkembang menjadi sistem bahasa yang memiliki sistem seperangkat kaidah yang berbeda satu dengan yang lainnya.

2.2  MACAM-MACAM RAGAM BAHASA

Macam-macam ragam Bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi 4 jenis yaitu berdasarkan media atau sarana, berdasarkan cara pandang penutur, berdasarkan ragam sosial dan ragam fungsional dan ragam bahasa berdasarkan topik pembicara.

2.2.1        Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan media atau sarana terdiri dari ragam lisan  dan ragam tulis.

1.      Ragam Lisan
Ragam bahasa lisan adalah bahan yang dihasilkan alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar. Dalam ragam lisan, kita berurusan dengan tata bahasa, kosakata, dan lafal. Dalam ragam bahasa lisan ini, pembicara dapat memanfaatkan tinggi rendah suara atau tekanan, air muka, gerak tangan atau isyarat untuk mengungkapkan ide. Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan kalimat. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur  di dalam kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan.

Ciri-ciri ragam lisan :
a.       Memerlukan orang kedua/teman bicara.
b.      Tergantung situasi, kondisi, ruang & waktu.
c.       Tidak harus memperhatikan unsur gramatikal, hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh.
d.      Berlangsung cepat.
e.       Sering dapat berlangsung tanpa alat bantu.
f.       Kesalahan dapat langsung dikoreksi.
g.      Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik wajah serta intonasi.



Kelebihan Ragam Bahasa lisan:
Di dalam ragam lisan unsur-unsur fungsi gramatikal, seperti subjek, predikat, dan objek tidak selalu dinyatakan. Unsur-unsur itu kadang-kadang dapat ditinggalkan. Hal ini disebabkan oleh bahasa yang digunakan itu dapat dibantu oleh gerak, mimik, pandangan, anggukan, atau intonasi.
Kelemahan Ragam bahasa lisan:
Ragam lisan sangat terikat pada kondisi, situasi, ruang dan waktu. Apa yang dibicarakan secara lisan di dalam sebuah ruang kuliah, hanya akan berarti dan berlaku untuk waktu itu saja. Apa yang diperbincangkan dalam suatu ruang diskusi  belum tentu dapat dimengerti oleh orang yang berada di luar ruang.
Contoh ragam lisan adalah ‘Sudah saya baca buku itu.’

2.      Ragam Tulis
Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan) di samping aspek tata bahasa dan kosa kata. Dengan kata lain dalam ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide.

Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis makna kalimat yang diungkapkannya tidak ditunjang oleh situasi pemakaian, sedangkan ragam bahasa baku lisan makna kalimat yang diungkapkannya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalimat. Oleh karena itu, dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis diperlukan kecermatan dan ketepatan di dalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk kata dan struktur kalimat, serta kelengkapan unsur-unsur bahasa di dalam struktur kalimat.

Ciri-ciri ragam tulis :
a.        Tidak memerlukan orang kedua/teman bicara;
b.      Tidak tergantung kondisi, situasi & ruang serta waktu;
c.        Harus memperhatikan unsur gramatikal;
d.      Berlangsung lambat;
e.       Selalu memakai alat bantu;
f.       Kesalahan tidak dapat langsung dikoreksi;
g.      Tidak dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik muka, hanya terbantu dengan tanda baca.




Kelemahan Ragam bahasa tulisan:
Ragam tulis perlu lebih terang dan lebih lengkap daripada ragam lisan. Fungsi-fungsi gramatikal harus nyata karena ragam tulis tidak mengharuskan orang kedua berada di depan pembicara. Kelengkapan ragam tulis menghendaki agar orang yang “diajak bicara” mengerti isi tulisan itu. Contoh ragam tulis ialah tulisan-tulisan dalam buku, majalah, dan surat kabar.

Contoh kalimat ‘Nia sedang membaca surat kabar’

2.2.2        Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan cara pandang penutur

1.      Ragam bahasa berdasarkan daerah disebut ragam daerah (logat/dialek).
Luasnya pemakaian bahasa dapat menimbulkan perbedaan pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang tinggal di Jakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali, Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing memilikiciri khas yang berbeda-beda. Misalnya logat bahasa Indonesia orang Jawa Tengah tampak padapelafalan/b/pada posisiawal saat melafalkan nama-nama kota seperti Bogor, Bandung, Banyuwangi, dll. Logat bahasa Indonesia orang Bali tampak pada pelafalan /t/ seperti pada kata ithu, kitha, canthik, dll

Contoh ragam dialek adalah ‘Gue udah baca itu buku.’

2.      Ragam bahasa berdasarkan pendidikan penutur.
Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya fitnah, kompleks,vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas. Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.

Contoh ragam terpelajar adalah ‘Saya sudah membaca buku itu.’

3.      Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur.
Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa (jika dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan kawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa baku. Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.

2.2.3        Berdasarkan Ragam Sosial dan Ragam Fungsional

1.      Ragam sosial
yaitu ragam bahasa yang sebagian norma dan kaidahnya di dasarkan atas kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil dalam masyarakat. Ragam bahasa yang digunakan dalam keluarga atau persahabatan dua orang yang akrab dapat merupakan ragam sosial tersendiri.

2.      Ragam fungsional,yang kadang-kadang disebut juga ragam professional.
adalah ragam bahasa yang dikaitkan dengan profesi, lembaga, lingkungan kerja, atau kegiatan tertentu lainnya. Ragam fungsional juga dikaitkan dengan keresmian keadaan penggunaannya.

2.2.4        Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan topik pembicaraan

Dalam kehidupan sehari-hari banyak pokok persoalan yang dibicarakan. Dalam membicarakan pokok persoalan yang berbeda-beda ini kita pun menggunakan ragam bahasa yang berbeda. Ragam bahasa yang digunakan dalam lingkungan agama berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan kedokteran, hukum, atau pers. Bahasa yang digunakan dalam lingkungan politik, berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan ekonomi/perdagangan, olah raga, seni, atau teknologi. Ragam bahasa yang digunakan menurut pokok persoalan atau bidang pemakaian ini dikenal pula dengan istilah laras bahasa.

Perbedaan itu tampak dalam pilihan atau penggunaan sejumlah kata/peristilahan/ungkapan yang khusus digunakan dalam bidang tersebut, misalnya masjid, gereja, vihara adalah kata-kata yang digunakan dalam bidang agama; koroner, hipertensi, anemia, digunakan dalam bidang kedokteran; improvisasi, maestro, kontemporer banyak digunakan dalam lingkungan seni; pengacara, duplik, terdakwa, digunakan dalam lingkungan hukum; pemanasan, peregangan, wasit digunakan dalam lingkungan olah raga. Kalimat yang digunakan pun berbeda sesuai dengan pokok persoalan yang dikemukakan. Kalimat dalam undang-undang berbeda dengan kalimat-kalimat dalam sastra, kalimat-kalimat dalam karya ilmiah, kalimat-kalimat dalam koran/majalah, dll. Contoh kalimat yang digunakan dalam undang-undang.lingkungan kerja, atau kegiatan tertentu lainnya. Terdiri dari ragam bahasa ilmiah, ragam hukum, ragam bisnis, ragam agama, ragam sosial, ragam kedokteran dan ragam sastra.

Ciri-ciri ragam ilmiah :
a.       Bahasa Indonesia ragam baku
b.      Penggunaan kalimat efektif
c.       Menghindari bentuk bahasa yang bermakna ganda
d.      Penggunaan kata dan istilah yang bermakna lugas dan menghindari pemakaian kata dan istilah yang bermakna kias
e.       Menghindari penonjolan persona dengan tujuan menjaga objektivitas isi tulisan
f.        Adanya keselarasan dan keruntutan antarproposisi dan antaralinea.

Contoh ragam bahasa berdasarkan topik pembicaraan :
a.       Dia dihukum karena melakukan tindak pidana. (ragam hukum)
b.      Setiap pembelian di atas nilai tertentu akan diberikan diskon.(ragam bisnis)
c.       Cerita itu menggunakan unsur flashback. (ragam sastra)
d.      Anak itu menderita penyakit kuorsior. (ragam kedokteran)
e.       Penderita autis perlu mendapatkan bimbingan yang intensif. (ragam psikologi)

Ragam bahasa baku dapat berupa : (1) ragam bahasa baku tulis dan (2) ragam bahasa baku lisan


2.3  MACAM-MACAM RAGAM BAHASA BERDASARKAN TINGKAT KEFORMALAN

Martin Joss membedakan ragam bahasa dalam lima bentuk, yaitu ragam beku (frozen), ragam resmi (formal), ragam usaha ( konsultatif), ragam santai (casual), dan ragam akrab (intim) (Abdul Chaer, 2004:70). Berikut penjelasan tiap-tiap ragam tersebut.

2.3.1        Ragam Beku (frozen)

Ragam bahasa ini merupakan variasi bahasa yang paling formal dan digunakan dalam situasi-situasi khidmat dan upacara-upacara resmi seperti kenegaraan, tata cara pengambilan sumpah, undang-undang, akta notaris, dan surat keputusan. Variasi ini disebut ragam beku karena pola dan kaidahnya sudah ditetapkan secara mantap dan tidak boleh diubah. Dalam bentuk tertulis raga mini dapat kita temui pada dokumen-dokumen sejarah, undang-undang, akta notaris, naskah perjanjian jual beli dan surat sewa menyewa.

Kalimat-kalimat yang dimulai dengan bahwa, maka, hatta, dan sesungguhnya merupakan contoh dari bahasa ragam beku. Susunan kalimat dalam ragam beku biasanya panjang-panjang, bersifat kaku, dan kata-katanya lengkap. Denga demikian, para penutur dan pendengar ragam beku dituntut keseriusan dan perhatian penuh.

2.3.2        Ragam Resmi (formal)

            Ragam bahasa ini merupakan bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, surat menyurat dinas, ceramah kenegaraan, atau buku-buku pelajaran. Pola dan kaidah ragam resmi sudah ditetapkan secara mantap sebagai suatu standar. Ragam resmi ini pada dasarnya sama dengan ragam beku yang hanya digunakan dalam situasi resmi. Jadi, percakapan antar teman yang sudah karib atau percakapan dalam keluraga tidak dituntut menggaunakan ragam resmi. Akan tetapi, pembicaraab dalam acara peminangan atau diskusi dalam ruang kuliah menggunakan ragam resmi.Karakteristik dalam ragam ini yaitu lebih lengkap dan kompleks, menggunakan pola tata bahasa yang tepat dan juga kosa kata standar atau baku.

2.3.3        Ragam Usaha (konsultatif)

Variasi ini lazim digunakan dalam pembicaraan biasa disekolah, rapat-rapat, atau pembicaraan yang berorientasi pada hasil atau produksi. Jadi, dapat dikatakan bahwa ragam ini merupakan ragam yang paling operasional. Ragam ini tingkatannya berada antara formal dan ragam santai.

2.3.4        Ragam Santai (kasual)

Ragam ini merupakan variasi yang biasa digunakan dalam situasi yang tidak resmi seperti berbincang-bincang dengan keluarga ketika berlibur, berolahraga, berekreasi, dan sebagainya. Pada ragam ini banyak digunakan bentuk alegro atau ujaran dipendekkan. Unsur kata-kata pembentukannya baik secara morfologis maupun sintaksis banyak diwarnai bahasa daerah.

2.3.5        Ragam Akrab (intim)

Variasi bahasa ini digunakan oleh penutur dan petutur yang memiliki hubungan sangat akrab dan dekat seperti dengan anggota keluarga atau sahabat karib. Ragam ini ditandai dengan penggunaan bahasa yang lengkap, pendek-pendek, dan artikulasi tidak jelas. Pembicaraan ini terjadi antar partisipan yang sudah saling mengerti dan memiliki pengetahuan yang sama.

Adapun contoh dari kalimat ragam bahasa berdasarkan tingkat keformalan adalah sebagai berikut yang dirangkum kedalam sebuah percakapan:

Saldi dan Rey adalah dua sahabat karib. Di pojok ruangan seusai kuliah keduanya tampak berbincang-bincang.

1.      Saldi          : jadi, cin? (maksudnya jadi pergi ke telkom tidak?)
2.      Rey            : yoi,sudah pasti itu. (jadi, karena saya sudah janji kita akan ke Telkom)
3.      Saldi          : jamnya? (jam berapa?)
4.      Rey            : delapen pagi besok, cin. (jam delapan pagi besok)
Tiba-tiba datang dosen ke dalam ruangan
5.      Saldi          : selamat siang, pak. Ada yang ketinggalan?
6.      Dosen        : tolong teman-teman yang lain diberi tahu makalahnya harus dikumpulkan paling lambat besok yah.
7.      Saldi          : baik pak. Nanti saya sampaikan kepada teman-teman yang lain.
8.      Dosen        : oke, terimah kasih
9.      Saldi          : terimah kasih kembali, pak.
Setelah dosen pergi, Aco masuk ke dalam kelas
10.  Aco           : saya kayaknya gak jadi ikut ntar. (mungkin nanti saya tidak bisa ikut)
11.  Rey            : aii... kenapa tidak bisa ko? (mengapa tidak bisa ikut)
12.  Aco           : ada acara keluarga besok. Jadi saya dialarang keluar oleh ibu saya besok. Harus stay terus di rumah.
13.  Rey            : oo.. santai saja. Tidak apa ji.
14.  Aco           : okey.

Berdasarkan contoh petikan percakapan diatas, dapat kita lihat terjadi perubahan ragam bahasa yang digunakan meskipun percakapan tersebut terjadi dalam satu lokasi dan satu waktu. Percakapan nomor 1-4 merupakan contoh ragam bahasa akrab (intim) antara dua sahabat karib. Keakraban ini dapat kita ketahui dari bahasa yang digunakan seperti sapaan Cin dan penggunaan bahasa pendek-pendekyang diketahui oleh kedua penutur. Percakapan nomor 5-9 merupakan contohpercakapan ragam usaha (konsultatif) yang dilakukan oleh mahasiswa dan dosen. Keduanya menggunakan bahasa yang lebih formal daripada ragam santai (kasual) dan ragam akrab (intim). Percakapan nomor 10-14 merupakan contoh ragam bahasa santai, yaitu percakapan antara teman sekelas tetapi hubungan keduanya tidak sedekat seperti pada ragam intim. Sedangkan contoh kalimat ragam resmi (formal) dapat ditemukan pada surat kabar dan contoh kalimat ragam beku terdapat pada Undang-Undang Dasar 1945 dan juga dapat ditemukan dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar